Monthly Archives: Mei 2011

Kritik versi saya

“Males belajar? mati aja loe!!”

Hahaha…   Mungkin buat anak anak setipe saya(tipe GW300), kata kata yang kaya gitu udah sama sekali sudah nggak menghujam jantung. Kiranya, mungkin saya sudah kebal sama yang namanya hujatan (bahkan mungkin cukup ahli dalam counter attacknya)
remidi-pun, sudah nggak mengecewakan hati. Mungkin itu memang mukjizat yang diberikan Allah swt. buat tipe tipe seperti saya ini (item, dekil, garing dsb.) atau mungkin adalah hasil dari aksi-reaksi yang selama ini saya alami sejak sekecil melon sampe segede cabe rawit (jadi kurus ceritanya).

gimana nggak, bayangin! bayangin! gimana coba kalo gitu! benar benar gak bisa dimaafkan bukan!? bukankah yang seperti itu nggak adil!!?

(buat yang terheran-heran, jangan scroll keatas. memang belum saya tulis kok :P)

Jadi, waktu itu kan, saya kan, pas kelas 4 kan, ulangan tuh…  terus terus…  terus     pritt! prit!  terus! kosong pak terus! ini ongkos parkirnya pak..    ya makasih pak..   tapi ongkosnya 3000, sepeda bapak kan rodanya 3 ?   -__- (maaf jadi meluber kemana mana)

jadi gitu kronologisnya..  (sekarang bisa scroll   ke bagian yang “gimana nggak” tadi)
Tapi sebenernya, saya sendiri merasa kalau saya tidak bisa disalahkan dalam kegagalan saya ini. Menurut saya pendidikan di Indonesia ini terlalu formal (ato apalah bilangnya) menurutku semuanya terlalu dipaksakan. Kalo salah, ya udah salah. kalo bener, ya nggak mungkin. tadi udah salah kok! kalo nggak bisa disalahkan ato dibenarkan, hiih..  ngeyel bener sih -__-‘
Saya pikir inilah sebabnya Indonesia nggak benar benar merdeka. Hanya sedikit sekali inovasi yang bisa muncul (murni dari tangan2 Indonesia) karena kita selalu dipaksa untuk jalan di satu jalur sempit. kalo keluar dari jalur, ditilang (mana nggak punya SIM lagi).  ibaratnya kita (pemuda pemudi) ini adalah ribuan kelereng diameter 2cm yang di gulirkan di dalam selang diameter 3,8 sentimeter. Memang sih bisa lewat, tapi cuman satu kelereng. kalo mau dua pasti satu ato keduanya ada yang retak (menunjukkan hasil yang nggak sempurna)
dan saya yakin untuk menghasilkan pemuda yang sedemikian berbakatnya (dalam jumlah banyak) akan butuh waktu yang lama. Butuh beberapa generasi.

Contohnya adalah pak Habibie yang nggak (kurang) dihargai karyanya. akhirnya dia direkrut oleh perusahaan luar dan memakmurkan orang luar. Dan Sri Mulyani yang di persilahkan dengan entengnya untuk melenggang membela dunia. padahal Indonesia bahkan masih lebih butuh daripada dunia. dan mungkin juga ada beberapa anggota DPR yang jenius namun sayang mereka tertutup oleh anggota lain yang gayus (korupsi) sehingga ikut terseret dampaknya. bukankah sia sia? ha!?  *geleng geleng

Dan juga, guru SMA saya pernah berkata tentang Plato ato Aristotle yang dengan berani menentang sistem kerajaan zaman dahulu kemudian membawa masa kejayaan bagi bangsanya. Dan juga tentang Amerika yang berani “menyimpang” dan akhirnya menjadi negara adidas (adidaya maksudnya)

heran, apa cuma saya yang berpikir seperti ini, (ato mungkin saya yang telat) sudah seharusnya indonesia masuk ke era baru. era dimana semua rakyatnya sadar akan kebersamaan, terus gak ada nyontek antar teman, terus hilangkan penilaian subyektif dan juga obyektif. kita tidak seharusnya berpikir se kaku itu. pikirnkan saja sebab dan akibat dari pemikiran itu. mungkin jawaban salah dari anak anak yang remidi adalah sebuah jalan pikiran baru dan sebuah terobosan menuju sesuatu yang lebih baik!

manusia bukan makhluk exact. mereka adalah abstrak!

Iklan